Mari Kita Sambut Kelahiran Baran Energy, Bayi Unicorn Yang Akan Membuat kita Tidak Perlu Bayar Listrik

Gambar
JAKARTA, JUNI 2019 - Akhir-akhir ini, banyak perhatian masyarakat tertuju pada sejumlah tokoh muda sukses dunia, sebut saja misalnya Mark Zuckerberg pemilik Facebook, Jan Koum pendiri WhatsApp, atau  Elon Musk pengusaha muda sukses yang popular dengan beberapa bisnis bertema teknologi futuristik mulai dari bisnis otomotif ramah lingkungan hingga proyek perjalanan lintas angkasa.
Jika di luar negeri sudah banyak anak–anak muda yang sukses di bidangnya masing–masing, di Indonesia pun banyak anak anak muda yang memiliki potensi luar biasa, bahkan sudah sukses. Adalah Victor Wirawan, anak muda milenial Indonesia yang berinisiatif mengembangkan teknologi di bidang energi terbarukan.
Victor, yang oleh teman–teman dan relasinya disamakan dan dijuluki sebagai Elon Musk versi Indonesia tersebut, saat ini bersama dengan puluhan anak–anak muda milenial berbakat di bawah naungan Baran Energy, di antaranya sedang mengembangkan teknologi power storage yang bisa menampung energi listrik, baik yang …

Sinopsis Noble Hearts (Mentari di Ufuk Timur)


Irian Jaya Tahun 1997, Kampung Muting sebuah kecamatan dikelilingi rawa-rawa indah di sepanjang kali bian yang terisolir di dekat perbatasan Republik Indonesia – Papua Nugini. Saat itu anak-anak sekolah rata-rata hanya menamatkan sekolahnya sampai SMP saja dikarenakan belum ada SMA di Muting. Satu satunya jalan untuk melanjutkan SMA hanya dengan bersekolah di Kota Merauke yang jaraknya sekitar 250 KM.
Akibatnya banyak anak anak penduduk asli Marind yang enggan melanjutkan pendidikannya hingga SMA, mereka lebih memilih mengikuti jejak orang tuanya masuk hutan, berburu atau mencari ikan kaloso (arwana). Mereka menolak bersekolah jauh dari keluarga mereka.

Pak Wambrauw (Daud Hollenger) Kepala Sekolah SMP Negeri Muting menangkap kegelisahan ini dan bercita cita ingin mendirikan SMA Negeri di Muting agar anak anak Marind dapat bersekolah di dekat keluarga mereka. Di bantu oleh beberapa guru antara lain Pak Kasimirus Mahuze (Edo Kondologit) seorang guru yang dipercaya menjaga SMP Muting, Ibu Dewi Ambarwati (Nadine Chandrawinata) guru bantu dari lokasi transmigrasi, serta mengajak Pak Bahtiar (Mathias Muchus) seorang tokoh masyarakat yang telah puluhan tahun lama hidup di Muting dan di tuakan di kampung tersebut.

Misi Mulia ini ternyata tidak semulus yang dipikirkan. Mereka menemui banyak rintangan mulai dari ditolaknya proposal mereka di kecamatan, hingga keputusan dari pemerintah Kabupaten yang berencana mendirikan SMA di lokasi transmigrasi dengan alasan muridnya lebih banyak disana. Namun mereka tak patah semangat dan terus berjuang agar SMA harus tetap dibangun di kecamatan Muting demi untuk anak anak di kali bian. Pemerintah pun memberi peluang jika tetap ingin SMA dibangun di Muting maka minimal harus ada 8 orang murid sebagai syarat dibentuknya SMA persiapan. Pak Wambrauw dan kawan kawan pun segera menerima syarat ini dengan dukungan tokoh tokoh masyarakat di Muting.

Maka dimulailah kisah ini bergulir, pencarian demi pencarian dilakukan hingga ke pelosok-pelosok pedalaman. Pak Wambrauw dan Kasimirus mencari di seluruh kampung Muting, Ibu Dewi menelusuri desa desa kecil di pinggiran Muting sampai ke lokasi transmigrasi tempatnya berasal. Pak Bahtiar menyusuri sepanjang kali bian dengan perahu di tempatnya berjualan barang sambil mencari apakah ada anak-anak lulusan SMP yang mau bersekolah di SMA mereka.

Namun perjuangan mereka tidak semudah yang dibayangkan, untuk mencari 8 murid saja membutuhkan kerja keras luar biasa. Begitu sulit minat anak-anak pada masa itu untuk mau bersekolah. Anak anak Marind maupun anak dari lokasi transmigrasi semua tak berminat. Bagi mereka SMP saja sudah cukup. Namun Niat Pak Wambrauw, Pak Kasimirus, Ibu Dewi dan Pak Bahtiar tidak pernah menyerah, mereka terus berjuang dan membujuk dengan hati agar anak-anak ini mau bersekolah di SMA mereka. Perjuangan ini berlangsung selama berbulan-bulan.

Di sisi lain, Sefnat Mahuze (Richard Hollenger) anak dari Pak Kasimirus bersama Ikbal (Saddam Bassalamah) anak Pak Bahtiar yang baru saja lulus SMP setiap hari pergi ke kali bian mencari ikan kaloso (arwana) sambil mengisi waktu menunggu SMA mereka berdiri. Diluar dugaan, mereka mengalami musibah perahunya terhantam batang kayu dan terbalik ditengah arus deras. Pak Kasimirus dan Pak Bahtiar panik mencari anak-anak mereka. Terjadi dilema antara mencari murid ataukah mencari anak-anak mereka yang hilang di kali bian.


Akankah akhirnya mereka berhasil mendapatkan 8 orang murid seperti kuota yang ditentukan?  Saksikan perjuangan  mereka dengan latar belakang keindahan rawa dan kali bian Muting dalam film NOBLE HEARTS yang kisahnya diangkat ke layar lebar berdasarkan penuturan para tokoh aslinya. 
Noble Hearts disutradarai oleh Irham acho Bachtiar, produksi King Pro Cinema & PSF Merauke. Cerita ditulis oleh Kim Kematt. Seluruh pengambilan gambar dilakukan di Muting, Semangga, Wasor Merauke ,Papua.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menikmati Layanan Konten Premium KLIX TV yang Mengecewakan

Di Promo 12.12 Pertama Kali Menggunakan Aplikasi DANA

Grand Wisata, Kota Mandiri dari Sinar Mas Land di Timur Jakarta